Pariwisata dan Kebudayaan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Utara

Berita, Manado, Sulut418 Dilihat

MANADO beritasulawesi.com – Sinergi sektor pariwisata dan kebudayaan dinilai menjadi kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Utara.

Hal itu mengemuka dalam Program Ngopi (Ngobrol Pintar) yang digelar Jurnalis Independen Pemprov Sulut (JIPS) di Museum Sulawesi Utara, Jumat (19/6/2026), dengan tema “Pariwisata dan Kebudayaan sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Utara.”

Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala Dinas Pariwisata Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Kartika Devi Tanos, dan Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Yorry Rommy Lesawengan, sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Kartika menegaskan bahwa sektor pariwisata memiliki dampak ekonomi yang luas karena mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi berbagai sektor usaha, mulai dari transportasi, perhotelan, kuliner hingga UMKM.

Menurutnya, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara terus memperkuat sektor pariwisata melalui revitalisasi destinasi wisata serta peningkatan konektivitas transportasi udara, laut, dan darat.

Upaya tersebut dilakukan untuk memperluas akses wisatawan menuju berbagai destinasi unggulan di daerah.

“Sejak tahun lalu sejumlah destinasi wisata milik pemerintah provinsi telah direvitalisasi dan akan terus dilanjutkan. Konektivitas juga diperkuat melalui jalur udara, laut maupun darat,” ujar Kartika.

Ia menjelaskan, peningkatan aksesibilitas didukung oleh keberadaan penerbangan internasional, kunjungan kapal pesiar, serta konektivitas jalur Trans Sulawesi yang semakin memudahkan wisatawan menjangkau berbagai daerah tujuan wisata.

Kartika mengungkapkan, berdasarkan data terbaru, kunjungan wisatawan mancanegara ke Sulawesi Utara mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Tren tersebut menunjukkan sektor pariwisata daerah terus bergerak positif seiring membaiknya konektivitas dan promosi destinasi.

Meski demikian, ia mengakui kunjungan wisatawan nusantara masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain kondisi geopolitik global dan tingginya biaya transportasi udara.

Untuk itu, pemerintah bersama pelaku industri pariwisata terus mencari solusi melalui berbagai program promosi dan paket wisata yang lebih kompetitif.

Selain itu, Sulawesi Utara saat ini memiliki sekitar 127 desa wisata yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Namun, promosi dilakukan secara selektif agar destinasi yang dipasarkan benar-benar siap menerima kunjungan wisatawan.

“Kami tidak ingin wisatawan datang lalu kecewa. Karena itu hanya desa wisata yang telah direkomendasikan dan dinilai siap yang akan dipromosikan secara luas,” katanya.

Sementara itu, Yorry Rommy Lesawengan menegaskan bahwa kebudayaan merupakan salah satu kekuatan utama yang dapat memperkuat daya tarik pariwisata Sulawesi Utara.

Karena itu, revitalisasi Museum Sulawesi Utara tidak hanya bertujuan sebagai pusat edukasi, tetapi juga sebagai destinasi wisata budaya modern. Revitalisasi museum tersebut telah mendapat perhatian pemerintah pusat sebagai bagian dari penguatan infrastruktur kebudayaan daerah.

Menurut Yorry, museum kini menghadirkan berbagai fasilitas berbasis teknologi digital, ruang imersif sejarah, ruang musik tradisional, hingga ruang kuliner yang memperkenalkan kekayaan budaya Sulawesi Utara.

“Kami ingin museum ini menjadi destinasi budaya yang direkomendasikan kepada wisatawan. Di sini pengunjung dapat melihat representasi budaya Minahasa, Nusa Utara, dan Bolaang Mongondow dalam satu kawasan,” ujarnya.

Sejak dibuka kembali untuk umum pada 25 Mei 2026, Museum Sulawesi Utara telah menarik ribuan pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, komunitas hingga masyarakat umum.

Ke depan, Dinas Kebudayaan berencana mengembangkan area UMKM, bengkel sanggar budaya, serta berbagai aktivitas interaktif seperti pelatihan alat musik tradisional kolintang dan atraksi budaya lainnya guna memperkaya pengalaman wisatawan.

Untuk memperkuat promosi, Dinas Kebudayaan bersama Dinas Pariwisata juga akan melibatkan berbagai pelaku industri pariwisata, termasuk asosiasi perjalanan wisata, perhotelan, dan pramuwisata agar Museum Sulawesi Utara semakin dikenal sebagai destinasi wisata budaya unggulan.

Saat ini museum masih dapat dikunjungi secara gratis sambil menunggu penetapan regulasi terkait retribusi. Museum juga dibuka setiap hari, kecuali pada hari libur nasional.

Melalui diskusi tersebut, kedua kepala dinas sepakat bahwa kolaborasi antara sektor pariwisata dan kebudayaan merupakan strategi penting dalam memperkuat identitas daerah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara.

Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, berkembangnya desa wisata, serta hadirnya museum modern berbasis teknologi dan budaya lokal, Sulawesi Utara optimistis mampu menjadikan pariwisata dan kebudayaan sebagai salah satu motor utama pembangunan daerah. (HM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *