MANADO beritasulawesi.com — Pemanfaatan generative artificial intelligence (AI) semakin berkembang dalam pendidikan keperawatan.
Namun, teknologi ini perlu digunakan secara terarah agar tidak sekadar menjadi alat pencari informasi, tetapi juga mendukung mahasiswa dalam menganalisis kasus dan mengembangkan kemampuan clinical reasoning secara kritis dan etis.
Hal tersebut menjadi fokus kegiatan “Pelatihan Pemanfaatan Generative Artificial Intelligence untuk Meningkatkan Clinical Reasoning Mahasiswa Keperawatan”, yang merupakan kolaborasi Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) dan Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Bataraguru Soroaka, dengan dukungan pendanaan AINEC Community Services Award Skema Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2026 dari Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI).
Kegiatan menyasar mahasiswa Semester V dari kedua institusi dan dilaksanakan secara bertahap, yakni 13 Juli 2026 di STIKes Bataraguru Soroaka dan 22 Agustus 2026 di Program Studi Ilmu Keperawatan FK Unsrat.
Tim pengabdian terdiri atas Christine Bernadette Maria Rumokoy, S.Kep., Ns., M.Kep. sebagai ketua dan Katrina Feby Lestari, S.Kep., Ns., M.P.H. sebagai anggota dari Program Studi Ilmu Keperawatan FK Unsrat, serta Ardin S. Hentu, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.Mb. dari Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Bataraguru Soroaka.
AI sebagai Mitra Belajar, Bukan Pengganti Perawat
Pelatihan dilaksanakan secara hybrid dengan menghadirkan Difran Nobel Bistara, S.Kep., Ns., M.Kep. dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya sebagai narasumber.
Materi disampaikan secara daring, sementara mahasiswa mengikuti kegiatan secara luring di masing-masing kampus.
Selain menerima materi secara interaktif, mahasiswa dilatih menganalisis kasus keperawatan dengan memanfaatkan generative AI, kemudian mendiskusikan hasilnya melalui sesi tanya jawab. Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah prompt klinis R-T-C-O (Role, Task, Context, Output) untuk membantu mahasiswa memberikan instruksi yang lebih terarah kepada AI.
Pelatihan menekankan bahwa AI bukan pengganti kemampuan berpikir klinis seorang perawat. Teknologi ini dapat menjadi mitra belajar untuk membantu mempercepat analisis, memperluas wawasan, dan memberikan umpan balik.
Namun, keputusan klinis tetap harus didasarkan pada clinical reasoning, standar SDKI, SLKI, dan SIKI, evidence-based practice, etika profesi, serta keselamatan pasien.
Kolaborasi Mendapat Apresiasi dan Dukungan
Kegiatan mendapat apresiasi dari Koordinator Program Studi Ilmu Keperawatan FK Unsrat, Ns. Sefti S. J. Rompas, S.Kep., M.Kes., dan Ketua STIKes Bataraguru Soroaka, Silvah, S.ST., M.Kes.
Kolaborasi kedua institusi diharapkan dapat mendorong pemanfaatan teknologi digital secara bertanggung jawab dalam pembelajaran keperawatan.
Ketua tim pengabdian, Christine Bernadette Maria Rumokoy, menyampaikan terima kasih kepada Pengurus Pusat AIPNI atas dukungan pendanaan, serta pimpinan Program Studi Ilmu Keperawatan FK Unsrat, STIKes Bataraguru Soroaka, dan seluruh mahasiswa Semester V atas dukungan dan partisipasinya.
Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat kesiapan mahasiswa keperawatan dalam menghadapi perkembangan teknologi digital sekaligus membangun budaya pembelajaran yang adaptif, kritis, dan tetap berlandaskan profesionalisme keperawatan (**)







